Bahas Tuntas Masalah Bid’ah – Bid’ah sendiri adalah adalah perbuatan yang dikerjakan tidak menurut contoh yang sudah ditetapkan, termasuk menambah atau mengurangi ketetapan.[1] Secara linguistik, istilah ini memiliki arti inovasi, pembaruan, atau doktrin sesat (wikipedia).

Definisi Bid’ah secara bahasa berarti membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya.(Dalam Al Mu’jam Al Wasith, 1/91, Majma’ Al Lugoh Al ‘Arobiyah-Asy Syamilah)

Hal ini sebagaimana dapat dilihat dalam firman Allah,

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Allah Pencipta langit dan bumi.” (QS. Al Baqarah [2] : 117, Al An’am [6] : 101), maksudnya adalah mencipta (membuat) yang mana tidak ada contoh pada sebelumnya.

Juga firman-Nya,

قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ

“Katakanlah: ‘Aku bukanlah yang menyampaikan hal yang baru di antara rasul-rasul’.” (QS. Al Ahqaf [46] : 9) , maksudnya aku bukanlah Rasul pertama yang diutus ke dunia ini dan menyampaikan hal Baru (Melainkan Tauhid yang sama seperti Pendahuluku). Lisanul ‘Arob, 8/6 -Asy Syamilah

Baca Juga: Modifikasi Yamaha Nmax 150 Tahun 2015 Magelang
Baca Juga: Biografi Ustadz Abdul Somad
Bacca Juga: Jasa Pembuatan Website Profesional

Kali ini kita akan Bahas Tuntas Masalah Bid’ah dari Buku 37 Masalah Populer 1, sebagai berikut :

عن جابر بن عبد الله  قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم اذا خطب احمرت عيناه وعلا صوته واشتد غضبه حتى كانه منذر جيش يقول صبحكم ومساكم ويقول بعثت انا والساعة كهاتين ويقرن بين اصبعيه السبابة والوسطى ويقول اما بعد فان خير الحديث كتاب الله وخير الهدى هدى محمد وشر الامور محدثاتها وكل بدعة ضلالة

Dari Jabir bin Abdillah. Ia berkata, “Ketika Rasulullah Saw menyampaikan khutbah, kedua matanya memerah, suaranya keras, marahnya kuat, seakan-akan ia seorang pemberi peringatan pada pasukan perang, Rasulullah Saw bersabda, “Dia yang telah menjadikan kamu hidup di waktu pagi dan petang”. Kemudian Rasulullah Saw bersabda lagi, “Aku diutus, hari kiamat seperti ini”. Rasulullah Saw mendekatkan dua jarinya; jari telunjuk dan jari tengah. Kemudian Rasulullah Saw berkata lagi, “Amma ba’du (adapun setelah itu), sesungguhnya sebaik-baik cerita adalah kitab Allah (al-Qur’an). Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang dibuat-buat. Dan tiap-tiap perkara yang dibuatbuat itu dhalalah (sesat)”. (HR. Muslim)

عن العرباض بن سارية قال وعظنا رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما بعد صلاة الغداة موعظة بليغة ذرفت منها العيون ووجلت منها القلوب فقال رجل ان هذه موعظة مودع فماذا تعهد الينا يا رسول الله قال اوصيكم بتقو الله والسمع والطاعة وان عبد حبشى فانه من يعش منكم يرى اختلافا كثيرا واياكم ومحدثات الامور فانها ضلالة فمن ادرك ذلك منكم فعليه بسنتي وسنة الخلفاء الرشدين المهديين عضوا عليها بالنواجد

Dari al-‘Irbadh bin Sariyah, ia berkata, “Rasulullah Saw suatu hari memberikan nasihat kepada kami setelah shalat Shubuh, nasihat yang sangat menyentuh, membuat air mata menetes dan hati bergetar. Seorang laki-laki berkata, “Sesungguhnya ini nasihat orang yang akan pergi jauh, apa yang engkau pesankan kepada kami wahai Rasulullah”. Rasulullah Saw menjawab, “Aku wasiatkan kepada kamu agar bertakwa kepada Allah. Tetap mendengar dan patuh, meskipun kamu dipimpin seorang hamba sahaya berkulit hitam. Sesungguhnya orang yang hidup dari kamu akan melihat banyak pertikaian. Jauhilah perkara yang dibuat-buat, sesungguhnya perkara yang dibuat-buat itu dhalalah (sesat). Siapa yang mendapati itu dari kalian, maka hendaklah ia berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ Rasyidin yang mendapat hidayah. Gigitlah dengan gigi geraham”. (HR. Abu Daud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Bahas Tuntas Masalah Bid’ah
Bahas Tuntas Masalah Bid’ah

Makna Bid’ah 

Pendapat Imam asy-Syathibi 

طريقة في الدين مخترعة تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد الله سبحانه

Suatu cara/kebiasaan dalam agama Islam, cara yang dibuat-buat, menandingi syariat Islam, tujuan melakukannya adalah sikap berlebihan dalam beribadah kepada Allah Swt.

Definisi lain,

البدعة طريقة في الدين مخترعة تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها ما يقصد بالطريقة الشرعية

Bid’ah adalah suatu cara/kebiasaan dalam agama Islam, cara yang dibuat-buat, menandingi syariat Islam, tujuan melakukannya seperti tujuan melakukan cara dalam syariat Islam

Pendapat Imam al-‘Izz bin Abdissalam tentang Bahas Tuntas Masalah Bid’ah

البدعة فعل ما لم يعهد في عصر رسول الله صلى الله عليه وسلم

Bid’ah adalah perkara yang tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah Saw

Pendapat Imam an-Nawawi:

قال أهل اللغة هي كل شيء عمل على غير مثال سابق

Para ahli bahasa berkata, bid’ah adalah semua perbuatan yang dilakukan, tidak pernah ada contoh sebelumnya

Pendapat al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani:

كل شيء أحدث على غير مثال يسمى بدعة سواء كان محمودا أو مذموما

Segala sesuatu yang dibuat-buat tanpa ada contoh sebelumnya disebut bid’ah, apakah itu terpuji ataupun tercela

Semuanya sepakat bahwa bid’ah ada perkara yang dibuat-buat, tanpa ada contoh sebelumnya, tidak diucapkan atau dilakukan Rasulullah Saw.

Baca Juga: Bahas Tuntas Masalah Bid’ah

Bid’ah Tidak Bisa Dibagi. Benarkan?

Seperti yang disebutkan para ulama di atas, semua sepakat bahwa Bid’ah adalah apa saja yang tidak ada pada zaman Rasulullah Saw. Jika demikian maka mobil adalah bid’ah, maka kita mesti naik onta. Tentu orang yang tidak setuju akan mengatakan, “Mobil itu bukan ibadah, yang dimaksud Bid’ah itu adalah masalah ibadah”. Dengan memberikan jawaban itu, sebenarnya ia sedang membagi bid’ah kepada dua: bid’ah urusan dunia dan bid’ah urusan ibadah. Bid’ah urusan dunia, boleh. Bid’ah dalam ibadah, tidak boleh. Kalau bid’ah bisa dibagi menjadi dua; bid’ah urusan dunia dan bid’ah urusan ibadah, mengapa bid’ah tidak bisa dibagi kepada bid’ah terpuji dan bid’ah tercela?! Oleh sebab itu para ulama membagi bid’ah kepada dua, bahkan ada yang membaginya menjadi lima. Berikut pendapat para ulama, sebagiannya berasal dari kalangan Salaf (tiga abad pertama Hijrah):

Pembagian Bid’ah Menurut Imam Syafi’i (150 – 204H):

قال الشافعي البدعة بدعتان محمودة ومذمومة فما وافق السنة فهو محمود وما خالفها فهو مذموم

Imam Syafi’i berkata, “Bid’ah itu terbagi dua: Bid’ah Mahmudah (terpuji) dan Bid’ah Madzmumah (tercela). Jika sesuai dengan Sunnah, maka itu Bid’ah Mahmudah. Jika bertentangan dengan Sunnah, maka itu Bid’ah Madzmumah Disebutkan oleh Abu Nu’aim dengan maknanya dari jalur riwayat Ibrahim bin al-Junaid dari Imam Syafi’i

Kretria Pembagian Bid’ah Mahmudah (terpuji) dan Bid’ah Madzmumah (tercela). Menurut Imam Syafi’i:

وجاء عن الشافعي أيضا ما أخرجه البيهقي في مناقبه قال المحدثات ضربان ما أحدث يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا فهذه بدعة الضلال وما أحدث من الخير لا يخالف شيئا من ذلك فهذه محدثة غير مذمومة

Juga dari Imam Syafi’i, diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dalam Manaqib Imam Syafi’i, “Bid’ah itu terbagi dua: Perkara yang dibuat-buat, bertentangan dengan al-Qur’an, atau Sunnah, atau Atsar, atau Ijma’, maka itu Bid’ah Dhalal (bid’ah sesat) Perkara yang dibuat-buat, dari kebaikan, tidak bertentangan dengan al-Qur’an, Sunnah, Atsar dan Ijma’, maka itu Bid’ah Ghair Madzmumah (bid’ah tidak tercela).

Wallahu’alam

Teknologi Smartcity Kabupaten Sleman

sumber: kkaswaja (Bahas Tuntas Masalah Bid’ah)

Supra Yoga Pratama

leave a comment

Create Account



Log In Your Account