Candi Sambisari, Si Cantik Berselimut Vulkanik Merapi

Sejarah-Candi-Sambisari

Candi Sambisari – Selama ini mungkin yang kita tahu kebanyakan sisa peninggalan sejarah berupa candi terletak di tanah yang tinggi dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Bahkan kebanyakan candi-candi tersebut memang dibangun di ketinggian atau di lereng bukit. Di Yogyakarta ada sebuah candi yang lokasinya cukup unik, yaitu terletak kira-kira 6,5 meter lebih rendah dari permukaan tanah. Candi dengan lokasi unik tersebut adalah Candi Sambisari.
Candi Sambisari adalah candi Hindu (Siwa) yang berada di Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta, kira-kira 12 km di sebelah timur kota Yogyakarta ke arah kota Solo atau kira-kira 4 km sebelum kompleks Candi Prambanan. Candi ini dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan raja Rakai Garung pada zaman Kerajaan Mataram Kuno.

Baca Juga : Pesona Sunset Candi Ratu Boko
Baca Juga : Desa Wisata Pentingsari Sleman 
Baca Juga : Santap Kuliner di Sate Kere Mbah Mardi 

Dibangun sekitar abad ke-9 pada masa pemerintahan Raja Rakai Garung, candi hindu ini sempat terkubur material vulkanik Merapi. Kemudian pada tahun 1996 ada seorang petani Dusun Sambisari yang tanpa sengaja menemukan candi yang telah terkubur berabad-abad ini. Setelah dilakukan proses eskavasi, Candi Sambisari pun kembali menampilkan sosoknya yang anggun dan megah.

Penemuan Candi Sambisari
Ini terjadi secara kebetulan yaitu pada Juli 1966, ketika seorang petani yang sedang mengolah sawah milik Bapak Karyoinangun, tiba-tiba merasa cangkulnya membentur batu berukir. Ternyata batu itu merupakan bekas reruntuhan candi. Berita tersebut sampai ke kantor Cabang Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional di Pramabanan. Langkah selanjutnya segera diadakan peninjauan dan penelitian di tempat temuan. Setelah diperoleh kepastian bahwa penemuan tersebut merupakan sebuah candi yang masih terpendam di dalam tanah, maka segera diputuskan untuk menyelamatkannya dengan mengadakan penggalian atau ekskavasi secepatnya.Langkah-langkah lebih lanjut setelah ekskavasi adalah, melakukan pra-pemugaran yaitu, dengan mengelompokkan batu-batu yang sama jenisnya. Selanjutnya dilakukan penyusunan percobaan dan kemudian pemugaran. Hasil pemugaran candi Sambisari tersebut terlaksana seperti yang terlihat sekarang ini. Dalam prosesnya ditemukan pula berapa perhiasan, tembikar, cermin logam, dan juga prasasti – prasasti yang terdapat di sekitar areal Candi Sambisari ini. Candi Sambisari diperkirakan bersifat candi yang berpusat pada Dewa Siwa, ini berdasarkan pada arca – arca yang ditemukan pada candi ini. Makna dari persatuan Lingga dan Yoni ini merupakan symbol dari sebuah kesuburan

Arca - Arca Candi Sambisari

Arca – Arca Candi Sambisari

Latar belakang Sejarah
Mengenai tahun pendirian candi Sambisari secara pasti belum dapat diketahui, karena tidak adanya bukti-bukti konkret yang mendukung validitas penentuannya. Oleh karena itu, untuk menentukan tahun pendiriannya harus ditinjau dari berapa segi.Dari segi arsitektur, candi Sambisari oleh Prof. Dr. Soekmono digolongkan ke dalam bangunan dari abad ke 8. Sedangkan berdasarkan batu isian yang digunakan di candi Sambisari yaitu, batu padas, maka masa pendiriannya semasa dengan candi Prambanan, Plaosan, dan Sojiwan sekitar abad ke-9 sampai dengan abab ke-10 M. Jenis batu padas ini banyak terdapat di bukit ratu Boko di Prambanan. Di tempat tersebut nampak bekas-bekas penggalian batu padas pada masa dulu.Berdasarkan kedua tafsiran tersebut, untuk sementara Soediman menempatkan pendidirian candi dalam dekade pertama atau kedua abad ke-9 M (812-838 M). Pendapat tersebut didukung dengan adanya penemuan sekeping daun emas bertulisan, karena berdasarkan tafsiran paleografis.

Tafsiran Raja yang Membangun
Sebagai bangunan suci agama Siwa, maka untuk memperkirakan tentang siapa raja yang membangun candi Sambisari harus dicari raja dari dinasti Sailendra yang menganut agama Siwa. Di dalam prasati Wnua Tengah III tahun 908 M, terdapat nama-nama raja dari dinasti Mataram yaitu:

Rahyang I Hara adik Rahyang ri Mdang (Rakai Mataram sang Ratu Sanjaya) 717-784 M
Cri Maharaja Rakai Panangkaran 746-784 M
Cri Maharaja Rakai Panaraban (panuggalan), 784-803 M
Cri Maharaja Rakai Warak Dyah Manara, 803-827 M
Cri Maharaja Rakai Gula, 827-828 M
Cri Maharaja Rakai Garung, 828-846 M
Cri Maharaja Rakai Pikatan, 846-855 M
Cri Maharaja Dyah Tagwas 885 M (Ia yang memerintah selama 8 bulan)
Cri Maharaja Rakai Panumwangan Dyah Dawendra, 855-887 M
Cri Maharaja Rakai Garunwangi Dyah Badra, 887 M (ia memerintah selama satu bulan, kemudian meninggalkan kerajaan, selama 8 tahun tidak ada raja yang memerintah, sampai raja berikutnya naik tahta)
Cri Maharaja Rakai Wungkalmalang Dyah Jbang, 894-898 M
Cri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung, 898 M

Dari daftar nama-nama raja dalam prasati Wnua Tengah III tersebut di atas yang paling mendekati tahun pendirian candi Sambisari, yaitu Rakai Garung, 828-846 M. Itulah sedikit kisah dari candi Sambisari, mungkin rasa terima kasih tentu bisa sepadan bila kita menghargai sejarah yang dimiliki oleh bangsa Indonesia ini dengan berkunjung ke Candi Sambisari dan tempat bersejarah lainya di negeri ini. Alasan sederhana yang mungkin tidak kita sadari, yang dikerjakan oleh para Arkeolog dan ahli penemuan situs purbakala yang ada saat ini. Sesungguhnya menampar kita generasi muda, bahwa betapa hebatnya bangsa ini.
Tentu, kesempatan yang kita miliki saat ini yaitu untuk tetap menjaga apa yang sudah di kerjakan oleh para Arkeolog dengan berkunjung dan tidak berbuat hal – hal yang merusak semacam mencoret atau perbuatan illegal lainya yang tentunya merugikan orang lain. Menjaga kebersihan kawasan wisata juga menjadi bagian kecil untuk menjaga lingkungan tetap sehat. Yuk segera ajak anak-anak kita dan saudara -saudara kita mengenal budaya peninggalan nenek moyang kita salah satunya candi Sambisari ini agar tetap lestari selamanya.

Editor : Supra Yoga Pratama
Sumber : njogja, sobatjogja, kompasnia, wikipedia
Image : Yoga Photograph

Yuk bagikan