Labuhan Gunung Merapi merupakan rangkaian acara adat Keraton Jogja. Labuhan berasal dari kata “labuh” yang berarti persembahan. Labuhan Gunung Merapi yang dilakukan oleh Kraton Yogyakarta ini merupakan perwujudan doa persembahan kepada Tuhan atas rahmat yang telah diberiakn kepada kraton dan rakyatnya. Upacara Labuhan dilakukan dibeberapa tempat. Selain di Gunung Merapi, upacara labuhan juga diselenggarakan di Pantai Parangkusuma, Gunung Lawu, serta di Kahyangan Delphi. Upacara Labuhan Gunung Merapi ini dilaksanakan setiap setahun sekali pada tanggal 25 pada bulan Bakdamulud atau Maulid Akhir.

Baca Juga : Ritual Budaya Becekan 
Baca Juga : Museum Affandi, Seniman Indonesia

Prosesi dari upacara Labuhan Gunung Merapi adalah diawali dengan penerimaan uba rampe dari Kraton Yogyakarta di Pendopo Kecamatan Cangkringan oleh juru kunci dan semua abdi dalem kraton dengan mengenakan pakaian khas Yogyakarta. Isi dari uba rampe sendiri adalah sembilan macam sesaji yaitu, sinjang kawung, sinjang kawung kemplang, desthar daramuluk, desthar udaraga, semekan gadung mlati, semekan gadug, seswangen, arta tindih, dan kampuh paleng. Selanjutnya uba rampe akan diarak lalu disemayamkan di rumah Juru Kunci Gunung Merapi. Dimalam hari bertempat di Mushola Pelemsari Huntaran Plosokerep dilakukan kenduri wilajengan yang dipimpin oleh juru kunci Gunung merapi. Kemudian dilanjutkan dengan berangkat Ke Masjid Kinahrejo dan ke lokasi bekas rumah mantan Juru Kunci Gunung Merapi, alm. Mbah Marijan untuk melakukan malam renungan dan doa yang dipimpin juru kunci Gunung Merapi dan diikuti abdi dalem serta warga setempat.

Labuhan Gunung Merapi
Labuhan Gunung Merapi

Selesai acara malam renungan dan doa, selanjutnya rombongan kembali ke Huntaran Plosokerep. Sampai di Hutaran Plosokerep, rombongan akan dihibur dengan kesenian uyon-uyon dilanjutkan doa dan tahlil malam tirakatan dipimpin juru kunci dan abdi dalem.
Prosesi dilanjutkan ke Alas Bedengan sebagai lokasi Labuhan Merapi. Diawali dengan napak tilas di bekas rumah Mbah Marijan. Menjelang akhir upacara di Alas Bedungan Rampe Labuhan, dibacakan doa oleh Sri Sultan hamengkubuwana X. selesai doa dilantunkan, biasanya warga akan berebut untuk mengambil uba rampe yang dibawa tadi. Warga masih percaya jika (Labuhan Gunung Merapi) berhasil mendapatkan apa yang ada di uba rampe, warga akan mendapatkan keberkahan.

Penulis : Dian Ayu SP
Editor : Supra Yoga Pratama
Image : corlena & akarnews

Supra Yoga Pratama

comments
  • Waaaw. budaya di Jogja memang sangat kental dan menarik menarik ya

  • leave a comment

    Create Account



    Log In Your Account