Persediaan air tanah di Sleman kini semakin terancam. Meningkatnya alih fungsi lahan dan pembangunan mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap air hujan. Imbasnya persediaan air tanah, bawah tanah, maupun permukaan untuk masyarakat Sleman mengalami penyusutan.
“Pembangunan dapat mengganggu ekosistem air, seharusnya hotel dan mall pakai air bawah tanah dari sumur bor dengan kedalaman 105 meter,” kata Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sleman Purwanto.
Selain hotel dan mal, lanjut Purwanto, pembangunan rumah sakit ikut menyumbang penyusutan persediaan air tanah. Ia mengatakan, Penggalian sumur bor itu harus melalui metode geolistrik dan selanjutnya dinding sumur harus disemen agar tidak rembes.
Akan tetapi kenyataannya, banyak pengembang bangunan nakal. Mereka hanya menggali sumur sampai kedalaman sekitar 50 meter. Penggalian tidak dilanjutkan sampai pada standar kedalaman sumur bor ketika air sudah muncul. Akhirnya air tanah tersedot dan menyusut dalam jumlah besar.
Di Sleman, daerah dengan tingkat pembangunan paling tinggi berada di wilayah Depok. Pembangunan hotel, mall, dan rumah sakit berkembang pesat di wilayah tersebut. Untuk mencegah kelangkaan air, BLH Sleman mengimbau agar warga membuat sumur resapan di masing-masing rumah. Sumur tersebut berfungsi sebagai area penampungan air hujan.
“Idealnya setiap 60 meter persegi lahan harus memiliki satu sumur resapan,” ungkapnya.
Bupati Sleman, Sri Purnomo, sebelumnya sempat mengaku jika alih fungsi lahan di Sleman memang cukup tinggi. Selama lima tahun terakhir, luas pesawahan di Sleman menurun dengan rata-rata 0,11 persen per tahun. Lalu luas tegalan turun rata-rata 0,02 persen per tahun.
Hal itu berbanding terbakik dengan luas pekarangan yang naik 0,13 persen per tahun. Kondisi tersebut menunjukkan jika alih fungsi lahan pertanian ke nonpertanian semakin tinggi dan sulit dikendalikan.
“Perubahan lahan yang dominan yaitu lahan pertanian menjadi tanah kering untuk pemukiman,” ungkapnya.
Guna menanggulangi hal itu, Pemkab Sleman menyarankan masyarakat agar membangun bangunan secara horizontal, ke atas. Sehingga tidak akan banyak memakan ruang terbuka hijau. Serta keberadaan lahan serapan air dapat dipertahankan. (*)

Sumber: TribunJogja

Supra Yoga Pratama

leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Create Account



Log In Your Account