Ritual Budaya Becekan, itulah ritual yang dilakukan warga desa Kepuharjo Kecamatan Cangkringan Sleman untuk memanggil hujan jika terjadi kemarau panjang. Lokasi desa kapuharjo sendiri berada di lereng Gunung Merapi, banyak dari warganya yang berprofesi sebagai petani dan memiliki ladang perkebunan. Selain untuk memanggil hujan dengan Ritual Budaya Becekan, warga juga memohon untuk mendapatkan kesuburan bagi tanah dan ladang. Selain desa Kepuharjo, ritual ini juga dilakukan di Desa Pagerjurang dan Desa Manggong. Becekan berasal dari kata “becek” berarti mengandung air atau berair. Atau juga berasal dari makanan yang digunakan warga dalam ritual ini, yaitu “becek” yang merupakan masakan gulai daging kambing. Ritual Becekan biasa dilakukan ketika musim kemarau panjang dan hujan tidak kunjung turun, tepatya dihari Jumat Kliwon.

Ritual budaya becekan
Ritual budaya becekan

Prosesi acara Ritual Budaya Becekan dimulai dari memetri sumur, selanjutnya Upacara Becekan berlangsung di tengah sungai Gendol, terakhir upacara di masing-masing dusun. Ritual becekan dipimpin oleh seorang modin (Kesejahteraan Rakyat). Tugas kaur kesra/modin meliputi pembinaan di bidang agama, kesehatan, pendidikan, olahraga, dan kesenian di wilayahnya.  Selain itu juga membantu kepala desa dalam melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan program keagamaan serta melaksanakan program pemberdayaan masyarakat dan sosial kemasyarakatan. Keunikan dari Ritual Budaya Becekan ini adalah seluruh rangkaian ritual dilakukan oleh laki-laki. Termasuk dalam menyembelih, menguliti, hingga mengolah daging menjadi becek atau gulai daging kambing. Kaum perempuan tidak boleh ikut dalam ritual ini. Tidak ada alasan yang jelas mengapa hanya laki-laki saja yang boleh ikut dalam ritual Becekan. Karena ritual ini sudah berlangsung berabad-abad lalu dan merupakan ritual turun temurun.

Baca Juga : Upacara Adat Batok Bolu Alas Ketonggo
Baca Juga : Merti Bumi Tunggul Arum

Selesai memasak becek atau gulai daging kambing, rombongan laki-laki berbondong-bondong menuju sungai Gendol untuk melakukan Ritual Becekan. Sampai dilokasi ritual Becekan, pemimpin adat atau modin memanjatkan doa memohon turun hujan. Selesai doa dipanjatan warga yang datang ke lokasi Ritual Becekan bersama-sama menyantap hidangan yang mereka bawa tadi. Dan inilah tanda berakhirnya Ritual Becekan. Konon setelah dilangsungkannya Ritual Budaya Becekan, tak lama kemudian hujan akan segera turun.

Penulis : Dian Ayu SP
Editor : Supra Yoga Pratama
Image : satubanten & panoramio

Supra Yoga Pratama

leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Create Account



Log In Your Account