Sejarah Candi Ratu Boko Dan Misterinya

Sejarah candi ratu boko – Indonesia punya sejarah panjang, banyak bukti mengenai itu. Mulai dari jaman kerajaan-kerajaan hindu dan budha sampai jaman kemerdekaan. Banyak sisa-sisa kejayaan masa lalu yang bisa kita lihat sampai saat ini. Candi ini merupakan peninggalan masa lalu yang masuk dalam situs warisan cagar budaya. Sangat berkaitan erat dengan Candi Borobudur dan Candi Prambanan, meskipun ketenarannya memang masih unggul kedua candi tersebut. Namun, banyak keunikan yang tersimpan dari situs peninggalan sejarah ini.
Benarkah Ratu Boko ini sebenarnya bukanlah candi? Benarkah Ratu Boko merupakan reruntuhan istana raja Mataram? Benarkah Ratu Boko merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Hindu?

Baca Juga : Sejarah Candi Sambisari Sleman
Baca Juga : Museum Dapur Tradisonal
Baca Juga : Wisata Embung Tambakboyo

Mari kita simak Sejarah candi ratu boko berikut. Candi Ratu Boko adalah sebuah situs peninggalan bersejarah yang berupa reruntuhan bangunan menyerupai candi. Bangunan ini sangat penting peranannya dalam perkembangan sejarah dinasti Hindu di Indonesia terutama di Jawa. Candi Ratu Boko atau Candi Boko faktanya bukan benar-benar merupakan sebuah candi, tapi sebenarnya adalah sebuah istana atau keraton. Itulah kenapa Ratu Boko juga sering disebut sebagai Keraton Ratu Boko dalam Sejarah candi ratu boko

Sejarah Candi Ratu Boko Dan Misterinya

Sejarah Candi Ratu Boko Dan Misterinya

Candi Ratu Boko berada di Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di desa Dawung dan Desa Sambireja. Lokasinya berada di sebelah timur Kota Yogyakarta kurang lebih 19 kilometer, dan berada di sebelah selatan Candi Prambanan yang sangat terkenal dengan legenda Roro Jonggrang-nya, kurang lebih 3 kilometer. Selain itu lokasinya juga sangat dekat dengan beberapa candi Hindu lainnya seperti Candi Kalasan, Candi Sewu, Candi Plaosan, Candi Sambisari, dan beberapa candi lainnya. Dan reruntuhan Ratu Boko ini juga berada di atas puncak sebuah bukit yang tingginya kurang lebih 200 meter.

Sejarah Candi Ratu Boko

Dalam sejarah candi ratu boko nama Ratu Boko atau yang sebagian orang menulisnya Ratu Baka memiliki sedikit sejarah atau legenda. Nama Istana ratu Boko atau Keraton Ratu Boko diberikan pada reruntuhan situs ini karena diyakini bahwa ini adalah keraton dari seorang raja Mataram bernama Ratu Boko. Ratu Boko diyakini adalah ayah dari Roro Jonggrang yang ada dari legenda atau dongeng kisah cerita Roro Jonggrang
.Serkilas tentang sejarah candi ratu boko, situs yang juga peninggalan kerajaan mataram kuno ini bermula dari seorang belanda bernama H.J. De Graff. Pada abad ke 17 ia mencatat bahwa orang-orang Eropa yang datang ke Jawa telah menginformasikan adanya peninggalan sejarah purbakala. Mereka menerangkan bahwa telah ditemukan reruntuhan bangunan istana di Bokoharjo. Berdasarkan sejarah kerajaan Mataram kuno pada abad ke-8, Ratu Boko telah digunakan oleh dinasti Syailendra (Rakai Panangkaran) jauh sebelum zaman raja Samaratungga (pendiri Borobudur) dan Rakai Pikatan (Pendiri Prambanan). Sedangkan kisah lain yaitu kisah Prabu Boko yang berkembang sebagai cerita rakyat kuno tanah Jawa juga menyebutkan telah ditemukannya reruntuhan bangunan istana pada jaman masuknya agama Hindu persis ditempat yang dicatat oleh seorang Belanda tersebut. Namun, kutipan kisah Mas Ngabehi Purbawidjaja dalam Serat Babad Kadhiri mungkin yang lebih jelas menggambarkan keberadaan candi Ratu Boko yang dipenuhi pesona mistis didalamnya, begini ringkasnya:

“Alkisah pada suatu ketika, bertahtalah seorang Raja yang bernama Prabu Dewatasari di Kraton Prambanan, namun banyak diantara rakyatnya yang menyebut juga bahwa Raja Prambanan adalah Prabu Boko, seorang Raja yang ditakuti karena konon menurut cerita, Prabu Boko gemar makan daging manusia. Ternyata, sesungguhnya Prabu Boko adalah seorang perempuan, yaitu permaisuri Raja Prambanan yang bernama asli Prabu Prawatasari. Prabu Boko adalah perempuan titisan raksasa yang bernama Buto Nyai, meski demikian, kecantikannya tidak ada yang menandingi di wilayah Jawa Tengah kala itu. Karena postur badannya yang tinggi melebihi rata-rata tinggi orang dewasa di masa itu, maka dia juga mendapat nama alias atau julukan Roro Jonggrang. Setelah melahirkan putranya, Prabu Boko mempunyai kebiasaan memakan daging manusia. Dan karena perbuatannya tersebut, sang Raja Prabu Dewatasari murka dan mengusir permaisurinya meninggalkan istana. Kepergian sang permaisuri meninggalkan luka bagi Raja dan putranya yang masih bayi. Akhirnya dibuatlah patung dari batu yang menyerupai istrinya yang kini dikenal dengan Roro Jonggrang”.

Sumber lain yang bisa menjelaskan sejarah candi ratu boko yaitu dari Prasasti Abhayagiri Wihara yang berangka tahun 792 M yang ditemukan di situs Ratu Boko. Dalam prasasti ini menyebut seorang tokoh bernama Tejahpurnapane Panamkarana atau Rakai Panangkaran (746-784 M), serta menyebut suatu kawasan wihara di atas bukit yang dinamakan Abhyagiri Wihara yang kalau diartikan ke bahasa Indonesia kira-kira bermakna “biara di bukit yang bebas dari bahaya”. Dalam sejarah candi ratu boko dituliskan bahwa Rakai Panangkaran mengundurkan diri sebagai Raja karena menginginkan ketenangan rohani dan memusatkan pikiran pada masalah keagamaan, salah satunya dengan mendirikan wihara yang bernama Abhayagiri Wihara pada tahun 792 M. Rakai Panangkaran menganut agama Buddha demikian juga bangunan tersebut disebut Abhayagiri Wihara adalah berlatar belakang agama Buddha, sebagai buktinya adalah adanya Arca Dyani Buddha. Tapi anehnya ditemukan pula unsur–unsur agama Hindu di situs Ratu Boko Seperti adanya Arca Durga, Ganesha dan Yoni.

Baca Juga : Wisata Sejarah Goa Jepang 
Baca Juga : Wisata Air Terjun Telogo Muncar 
Baca Juga : Wisata Tebing Breksi

Lebih lanjut mengenai sejarah candi ratu boko, kelihatannya setelah selang waktu beberapa lama, kompleks ini kemudian diubah menjadi keraton dilengkapi benteng pertahanan bagi raja bawahan (vassal) yang bernama Rakai Walaing Pu Kumbayoni. Menurut prasasti Siwagrha tempat ini disebut sebagai kubu pertahanan yang terdiri atas tumpukan beratus-ratus batu oleh Balaputra. Bangunan di atas bukit ini dijadikan kubu pertahanan dalam pertempuran perebutan kekuasaan di kemudian hari. Karena keunikannya, susah juga kan sebenarnya kalau mengira-ira digunakan untuk apa sejatinya bangunan itu dulunya hanya dengan melihat eksistensinya saat ini, tapi penjelasan di atas semoga bisa memberi bayangan tanda tanya besar itu.

Indahnya Arsitektur/Ornamen Istana Ratu Boko

Candi Boko atau Candi Ratu Boko berada pada lokasi seluas 250.000 meter persegi, dan diatas puncak bukit. Istana Ratu Boko memiliki banyak sekali bagian bangunan, namun sayangnya saat ini hanya tinggal puing dan reruntuhan yang menyisakan beberapa bekas bangunan.
1. Gerbang Utama Candi Ratu Boko
Gerbang masuk ke Candi Boko ada di area sebelah barat candi. Gerbang ini terdiri dari 2 gerbang, yaitu gerbang luar yang berukuran kecil dan gerbang dalam yang besar dan merupakan gerbang utama Candi Ratu Boko. Gapura luar terdiri dari 3 gapura paduraksa yang berjajar. Sedangkan gapura dalam atau gapura utama terdiri dari 5 gapura paduraksa. Pada gapura utama terdapat tulisan Panabwara Hal ini mengacu pada nama Rakai Panabwara yaitu keturunan dari Rakai Panangkaran yang juga menguasai istana Ratu Boko ini

2.Candi Batu Kapur atau Batu Putih
Berada di sebelah timur laut berupa sebuah pondasi yang terbuat dari batu kapur. Bagian atasnya yang sudah tidak bersisa diperkirakan terbuat dari bahan kayu yang gampang sekali hancur.

3.Candi Pembakaran Dan Sumur Suci
Bangunan ini yang bakal Anda lihat pertama kali setelah masuk gerbang. Ada di sebelah kiri. Terbuat dari batuan andesit dan memiliki panjang 22,60 m , lebar 22,33 m dan tinggi 3,82m. Candi ini dinamakan Pembakaran karena ditemukan abu bekas pembakaran di situs candi Pembakaran. Ukuran sumurnya 2,30m x 1,80m, kedalaman airnya pada musim kering 2m. Dalam Sejarah candi ratu boko Pada zaman dahulu orang-orang menggunakan air dari sumur suci untuk upacara keagamaan di candi Pembakaran dan air dari sumur tersebut dipercaya membawa keberuntungan bagi siapa saja yang menggunakannya. Para pemeluk agama Hindu menggunakan air dari sumur tersebut untuk perayaan Tawur Agung (sehari sebelum Nyepi) untuk menyucikan diri

4. Paseban
Terdiri dari 2 Batur. Paseban timur memiliki panjang 24,6m , lebar 13,3 m , serta tinggi 1,16 m. Sedangkan Paseban barat memiliki panjang 24,42 m , lebar 13,34 m dan tinggi 0,8 m. Kedua paseban tersebut didirikan saling berhadapan antara satu dengan lainnya, namun demikian belum diketahui secara pasti fungsi paseban tersebut. Nama Paseban berdasarkan pada sebuah analogi istana diwaktu yang sesungguhnya, dalam Sejarah candi ratu boko paseban merupakan sebuah ruang tunggu bagi siapa saja yang hendak menemui raja atau tempat penghadapan

5. Pendopo
Pagarnya memiliki panjang 40,80 m , lebar 33,90 m , dan tinggi 3,45 m. Bagian dasar dan atapnya terbuat dari batuan andesit namun bagian tubuhnya terbuat dari batuan halus kapus halus. Ada 2 batur di dalam pagar , batur bagian utara memilik panjang 20,57 m , lebar 20,49 m, dan tinggi 1,43 m. Batur bagian selatan di Pringgitan, memiliki panjang 20,50 , lebar 7,04 m dan tinggi 1,51 m. Kedua batur tersebut terhubung pada sebuah lorong yang terbuat dari batuan andesit. Diatas atap batur terdapat 24 umpak dan masih ada 12 umpak di Pringgitan. Pendopo dalam Sejarah candi ratu boko merupakan bangunan pusat yang memiliki tiang-tiang yang terbuat dari kayu. Karena tiang, tembok, dan atap terbuat dari bahan yang mudah rusak maka hanya tiang yang terbuat dari batu yang masih utuh sedangkan bagian bangunan yang terbuat dari kayu sudah termakan usia.

6. Keputren/Kolam
Kompleks kolam terbagi menjadi 2 bagian, bagian utara dan bagian selatan. Kedua bagian dipisahkan oleh sebuah dinding penyekat dan terhubung oleh sebuah pintu. Kompleks dinding penyekat dan terhubung oleh sebuah pintu. Kompleks bagian utara berbentuk persegi. Terdiri dari 7 kolam ( 5 kolam besar dan 2 kolam kecil) , sedangkan kompleks bagian selatan terdiri dari 28 kolam (14 kolam besar berbentuk bulat , 13 kolam kecil berbentuk bilat dan 1 kolam berbentuk kotak). Dalam Sejarah candi ratu boko kolam-kolam ini sigunakan untuk berendam atau renang-renang ceria.

7.Gua
Merupakan 2 buah bangunan berupa lubang dari batu berbentuk persegi. Yang pertama adalah Gua Lanang (Gua Laki-laki) berbentuk ceruk persegi dengan ukuran lebar 3,7 meter, tinggi 1,3 meter, dan kedalaman 2,9 meter. Gua Lanang berada di bagian timur laut dari Paseban. Sedangkan yang satu lagi adalah Gua Wadon (Gua Puteri) juga berupa ceruk persegi dengan ukuran & lebar 3 meter, tinggi 1,3 meter, dan kedalaman 1, 7 m. Gua Wadon lebih kecil dan berada di sebelah tenggara Paseban.

Sampai dengan saat ini memang belum ada bukti sejarah (Sejarah Candi Ratu Boko) yang sangat akurat yang dapat mendeskripsikan fungsi utama dari Istana Ratu Boko. Namun berdasarkan dari beberapa penemuan dan juga bentuk dan lokasi Candi Ratu Boko, membuat para ahli yakin bahwa tempat ini memang tadinya adalah sebuah istana Kerajaan Mataram Kuno.
Dan diyakini bahwa di tempat inilah seluruh pusat pemerintahan dari Kerajaan Mataram Kuno berada. Hal ini mengingat lokasinya yang berada di puncak bukit, lalu juga sangat dekat dengan banyak bangunan besar bersejarah lain di sekitarnya. dan juga satu hal yang pasti situs ini bukanlah sebuah candi walaupun di komplek Candi Boko ini ditemukan reruntuhan beberapa candi kecil. Itulah ulasan singkat mengenai sejarah candi ratu boko, semoga bermanfaat.

Sumber : Candi1001 & Ardiyanta
Editor : Supra Yoga Pratama
Image : telusurindonesia

Yuk bagikan